Cubit Sekelurahan Jambi Adalah Kasih




Sebenarnya sungguh tidak pantas jika saya menulis blog hari ini, mengingat saya masih ada hutang dengan mas Agus Mulyadi atau biasa disapa Jomblo Dengan Kecerdasan Dalam Menghapal Pancasila Gusmul tapi, mengingat saya belum baca semuanya jadi saya urungkan dulu menulis review tentang buku beliau Bergumul Dengan Gusmul yang konon kocak tersebut. Mungkin anda mau membacanya duluan? Silahkan cari di Toko Buku terdekat di kota masing-masing, karena saya ogah meminjamkannya ke anda-anda sekalian.

Demikian tadi alasan saya belum juga menulis kocaknya buku Gusmul, agar beliau mengerti tentang keadaan saya, Rangga dan Cinta.



Ehm...




Untuk hari ini saya hanya ingin menyampaikan kecemasan saya tentang kota yang saya tempati sekarang, yaitu Kota Jambi yang dikenal dengan slogannya Sepucuk Jambi Sembilan Lurah, konon katanya tidak "Sepucuk" lagi, melainkan hanya tinggal Jambi Sembilan Lurah, karena pucuknya telah tiada.

Sebagai masyarakat yang baik, kehilanga pucuk membuat saya resah, gelisah dan basah. Saya merasa terpanggil. Saya harus ikut berfikir sebutan apa yang pantas untuk kota saya berikutnya, lalu hinggap di benak saya untuk menamainya "Sehangat Jambi Sembilan Kelurahan".

Bagaimana Jambi tidak hangat? Setiap malam anda-anda akan melihat begitu banyak penjual bandrek berjejer rapi di pinggiran jalan Kota Baru, Sipin dan TAC dengan berbagai pernak-pernik berupa lampu disko ajip-ajip sampai ada juga yang menyediakan televisi, mungkin agar pelanggan yang hadir tetap bisa menikmati kehangatan bandrek dan tidak ketinggalan episode terbaru Cantik-Cantik Magic. 

Sungguh penjual bandrek sangat pengertian, seakan menunjukkan sifat asli masyarakat Jambi dengan segala pengertiannya. Seperti saat ada sampah di lantai sebuah kantor, kami akan mengerti: "ooh ini bukan sampah saya, biarkan saja" atau mengerti satu sama lain seperti: "Trobos saja, kasihan yang dibelakang ikutan berhenti jika saya stop di lampu merah". Bandrek memang solusi akan Jambi Hari ini.



Eits tapi tunggu dulu!




Akan sangat egois jika saya hanya melihat dari sudut pandang Bandrek, karena saya belum melihat dari sudut batu akik yang juga ramai di Kota Jambi menggantikan Pucuk, tentu saja "Sebatu Jambi Sembilan Lurah", akan pantas menggantikan "Sehangat Jambi Sembilan Kelurahan" yang sepertinya mulai meredup eksistensinya digantikan batu akik.

Batu akik tentu saja berwatak keras namun tetap dengan keindahannya, melalui proses harus diasah dulu baru menunjukkan kemilaunya, sangat cocok dengan Jambi yang pekerja keras, seperti agenda tahunan yang hanya nambal aspal depan Pom Bensin Simpang Rimbo dengan bentuk lobang dan lokasi yang sama, tapi pemerintah tidak pernah terus berhenti bekerja, bekerja dan bekerja hingga kita lupa, sudah berapa kali lobang itu ditambal.


Namun, kalau mengingat tidak hanya Jambi yang telah terbatukan, sebaiknya saya tidak boleh egois juga dalam mengambil tindakan untuk membatukan Jambi dengan semena-mena dan dalam tempo se-singkat-singkatnya. 



Aha!



Saya tahu, anda-anda-pun pasti tahu apa yang harus kita sandangkan ke Kota Jambi, coba sedikit anda luangkan waktu untuk scroll timeline atau instagram akun-akun kuliner di Jambi, apa yang anda-anda lihat? 

Bener! Kue Cubit!.

Jambi adalah Kota yang memang harus di Cubit, dengan slogan "Cubit Sekelurahan Jambi" akan mampu menyatukan semuanya, mulai dari suami-suami penggila batu akik yang ingin dicubit hingga bandrek-bandrek pinggir jalan yang ternyata disudut-sudutnya juga ada yang main cubit-cubitan.

Kue Cubit akan mempresentasikan tentang Jambi, kue cubit adalah solusi dari hilangnya pucuk dari Sepucuk Jambi Sembilan Lurah dengan memanjakan pria-pria melalui sajian cubit-mencubit-ala-kue-cubit.

Kue Cubit pula akan menghadirkan ke-romantis-an, seperti dari kue yang cuma secuil tapi harganya lumayan nyuil, remaja-remaja akan belajar caranya berbagi demi cinta kasih, harga diri dan uang jajan sisa hari ini. Kue Cubit adalah cinta bagi remaja. Ketulusan tiada-tara.

Kue Cubit merupakan jalan keluar bagi wanita-wanita yang ingin diet tapi pengen ngemil. Ukurannya yang kecil-kecil akan sangat membantu argumen mereka jika terjadi dialog sengit dengan pacar: 

"Eeh kok makan lagi? Kamu kan lagi diet?" ucap si pacar yang entah perhatian atau hanya ingin menyelamatkan gaji terakhir bulan ini. 

"ini cuma dikit kok, mana bisa bikin gendut" ucap sang kekasih dengan iman diet yang kurang dan kiblat logika yang salah. 

Bisa ditebak, anda-anda tahu ending dari dialog tadi, cewek selalu benar, cewek akan menang, dan cewek memang lebih baik dicubit. Akhirnya mereka-pun makan kue cubit dan si cowok juga disuapin agar tidak kecewa-kecewa banget.

Dengan begini keyakinan saya sudah bulat! Kue Cubit akan menjadi icon baru Kota Jambi dengan slogan "Cubit Sekelurahan Jambi". Tentu saja tidak ada yang boleh mengganggu keputusan saya. Karena Cubit Sekelurahan Jambi adalah Kasih.


Sekian dan terima kasih atas Kehangatan, Kekuatan dan Ke-ter-cubit-an yang engkau berikan. 




You Might Also Like

6 comment

  1. jadi merasa terpanggil untuk ikutan nyubitt ah
    ngomong-ngomong lokasi tkp cubit-cubitan kue cubitnya dimane men?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuiis banyak bang. Dekat BTN, dekat Walkot, dimana2lah bang :D

      Delete
  2. aaah gemesyy jadi kepngen nyubitttt..

    ReplyDelete
  3. terus posting yang gokil" yah,,,
    beda ma yang laen,,,

    ReplyDelete
  4. Mari kita cubit sama-sama cewek tersebut.

    ReplyDelete
  5. albyyyyyyyyyyyyy duh postingmu mesti bikin pengen nyubit
    #eh

    ReplyDelete