Di bulan puasa selalu ada dialog yang aneh-aneh di keluarga saya, ini beberapa yang coba saya ingat, ada yang dari masa lalu dan masa kini, kebanyakan sih dari yang lalu-lalu.


Mamak dan Ira
"mak Ira, sudah tidak haus lagi"
"hebat, tahan dong puasa sampai magrib?"
"tahan mak!"
"baguus"
"mak, Ira mau ambil wudhu lagi ya"
"......"

Bapak dan Saya
"Riiiii!!!"
"iya pak?"
"ini sandal siapa?"
"bukan sandalku pak"
"ketukar di masjid berarti?"
"mungkin pak"
"nih, kembalikan ke masjid, cari sandal bapak"
"iya pak"
"cari yang agak bagusan"
"pak?"


Sumber Gambar



Dari judulnya ada kata Tataya, nama ini bakal saya pakai untuk menyebut kata Pacar di blog ini, akibat adanya surat edaran Hate Speech, maka mau tidak mau saya harus menyelamatkan blog ini agar tidak dibenci jomblo-jomblo karena melakukan perbuatan tidak menyenangkan.

Tataya sendiri saya ambil dari panggilan anak tetangga, namanya Mamat. Mamat biasa manggil Yaya dengan sebutan Tataya yang berarti Kak Yaya, karena saat itu dia masih kecil, jadi agak susah nyebutin nama dengan bener. Mamat juga punya panggilan buat saya, Mamat biasa manggil saya dengan panggilan Babi yang artinya Bang Alby. Em........

Beberapa bulan ini Tataya sedang semangat buat diet, bukan demi saya apalagi demi negara. Alasan Tataya diet agar semua koleksi celananya kembali bisa dipakai. Sekilas memang kayak nggak penting, tapi sadarlah wahai kaum lelaki, cewek yang celananya mulai tidak pas itu lebih nge-bete-in ketimbang cewek yang salah beli lipstik. Tidak percaya? Saya juga awalnya tidak percaya, tapi setelah dipikir-pikir, cewek yang celananya makin hari makin sempit malah makin ngeselin.

(Episode salah kamu)
Duuh celanaku makin sempit aja
Kamu sih ngajak aku makan terus!!!

(Episode salah makanan)
Duuh celanaku makin sempit aja
Kue di sini sih! Pakai enak segala!

(Episode siapa saja bisa salah)
Duuh celanaku makin sempit aja
Ini kenapa mamang batagor ada di sini terus sih?!!!




Setiap lebaran, keluarga saya punya tugas masing-masing: Bapak bagian yang beli minuman lebaran, Mamak bikin kue lebaran, Rika adek saya bantu Mamak bikin kue lebaran dan Ira adek yang paling bungsu bagian nyicip kue lebaran kemudian saya dapat bagian jaga rumah kalau semua pada mudik lebaran.

Berhubung saya tidak pulang kampung, mending kita bahas hal yang tidak jauh-jauh dari urusan kampung, saya ingin memperkenalkan salah satu buku yang fenomenal karya Agus Mulyadi dengan judul Bergumul Dengan Gusmul.

Ceritanya Februari lalu saya mendapat kiriman buku langsung dari Agus Mulyadi beserta tanda tangannya, iya Februari!! Dan baru dipost hari ini, kaget kan? apalagi saya! Sampe pucing pala belbi.




Sebenarnya sungguh tidak pantas jika saya menulis blog hari ini, mengingat saya masih ada hutang dengan mas Agus Mulyadi atau biasa disapa Jomblo Dengan Kecerdasan Dalam Menghapal Pancasila Gusmul tapi, mengingat saya belum baca semuanya jadi saya urungkan dulu menulis review tentang buku beliau Bergumul Dengan Gusmul yang konon kocak tersebut. Mungkin anda mau membacanya duluan? Silahkan cari di Toko Buku terdekat di kota masing-masing, karena saya ogah meminjamkannya ke anda-anda sekalian.

Demikian tadi alasan saya belum juga menulis kocaknya buku Gusmul, agar beliau mengerti tentang keadaan saya, Rangga dan Cinta.



Ehm...



Dimulai saat saya sedang cuci mata di koleksi sepatu futsal di Zalora, sambil mengingat sepatu saya yang robek dihantam bapak main bola minggu lalu. Iya, begitulah adanya, ketika sudah robek hanya ada pilihan-pilihan lain, coba memperbaiki atau ganti baru. Ingat! Barusan itu urusan sepatu futsal, tapi bagaimana kalau hati? Ayo kita bicarakan baik-baik.


Sebagai duta alay yang pernah saya terima pada tahun 2010 dan diresmikan oleh diri saya sendiri dengan masa jabatan semau-mau jidat, maka hari ini saya ingin menyampaikan kekecewaan saya kepada alay-alay di jagat raya sun-gokong ini.

Bagaimana tidak? Setelah berkurangnya tulisan besar kecil dan angka-angka romawi di kotak masuk saya, sekarang saya harus menerima pahitnya benih-benih broadcast pin-pin cewek yang katanya cakep manis dan ramah kepada setiap lelaki, tapi pas saya add malah tak ada cakepnya, apalagi manis. Hati saya mulai rapuh pada bagian ini.

sumber

Sama-sama tahu kalau sudah urusan cewek, kita sebagai lelaki harus pasrah. Mau menang susah, mau ngalah tapi nggak ikhlas. Bener kata penulis terkenal itu, cara satu-satunya menang lawan cewek adalah pura-pura mati. Tapi sayangnya gue nggak bisa pura-pura mati, hidung ini terlalu besar lobangnya buat pura-pura nggak napas.